Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna dan Sejarah dibalik Istimewanya Nasi Tumpeng

Sumber : Foto Pribadi

SainsKomputer - Nasi Tumpeng merupakan hidangan khas Indonesia yang biasanya disajikan untuk merayakan hari spesial.  Bentuknya sendiri berbentuk kerucut yang memiliki filosofi atau yang mengambil deskripsi dari geografi tanah air yang banyak diitari oleh pegunungan. Tumpeng yang merupakan singkatan dari yen metu kudu sing mempeng, memiliki makna jika hidup harus dengan kesungguhan. Nasi tumpeng yang berasal dari tradisi purba, memiliki arti dan makna di setiap bagian dan bentuk dari penyajiannya

Sejarah Terciptanya Nasi Tumpeng

Dilansir dari Jatenglive Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaanHindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya "Buceng", dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra' ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan".

Makna Dibalik Nasi Tumpeng

1. Nasi berbentuk kerucut.

Nasi yang dibentuk kerucut dapat diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera, melambangkan tangan merapat untuk selalu menyembah Tuhan, dan sebagai simbol pengharapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin sukses.

Nasi yang digunakan biasanya nasi putih ataupun uduk. Warna putih berarti suci sehingga nasi tumpeng jenis ini kerap disajikan dalam upacara keagamaan. Sementara warna kuning melambangkan kesejahteraan, kekayaan, atau rezeki yang melimpah yang umumnya disajikan dalam upacara tasyukuran.

2. Ayam.

Pemilihan ayam sebagai pelengkap tumpeng adalah ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental) yang menjadi simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Dimana ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa).

Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

3. Ikan.

Zaman dahulu ikan yang disajikan Ikan Lele. Ikan lele memiliki makna ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun. Karakter ikan lele sendiri adalah tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai.

Ikan Teri umumnya digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol sehingga memberi makna kebersamaan dan kerukunan.

Ikan ini menjadi simbol dari ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun. Lauk lain yang disajikan adalah ikan teri. Ikan ini biasanya digoreng dengan atau tanpa tepung. Ikan teri selalu hidup bergerombol. Filosofi yang dapat diambil, sebagai contoh dari kebersamaan dan kerukunan.

4. Telur rebus.

Nasi tumpeng dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu.

Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas.

Telur juga menjadi simbol jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

5. Sayur urap.

Pelengkap lainnya adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting, antara lain:

1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung,
2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,
3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan,
5. Bawang merah melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
6 Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain,
7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya, dan
8. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.


Akhir Kata

Sampai saat ini, nasi tumpeng juga masih digunakan sebagai bagian penting dalam berbagai acara-acara penting seperti acara perayaan adat, acara syukuran pernikahan, sunatan, kelahiran anak, selamatan, dan lainnya. Sekarang sudah banyak tempat-tempat untuk memesan khusus tumpeng, bahkan secara online juga tersedia. Sebagai sebuah tradisi baik sudah sepatutnya kita lestarikan untuk selalu mengingat pada Sang Maha Kuasa.

Di era digital ini, beragam bentuk tumpeng tersaji di berbagai acara. Bentuk khasnya masih ada, hanya lebih cantik dekorasinya menyesuaikan si pemilik acara. Saat ini sering kita temui ada nasi tumpeng mini satu porsi yang bisa diberikan kepada tamu undangan atau bahkan di restoran-restoran khas nusantara. Dengan tetap terjaga kelestarian sajian nasi tumpeng ini, kita bisa yakin dan percaya bahwa keberkahan, perlindungan, cinta, dan kasih sayang Tuhan akan senantiasa dilimpahkan untuk kita.

Agus Dwi
Agus Dwi "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak". - Ali bin Abi Thalib

Posting Komentar untuk "Makna dan Sejarah dibalik Istimewanya Nasi Tumpeng"